Suatu Pagi Di Antara Tuhan Dan Seekor Lalat
Pagi belum benar-benar menjadi pagi ketika lelaki itu tiba di taman kota Kristiania. Udara masih menyimpan dingin malam. Rumput basah oleh embun, bangku-bangku kayu terlihat pucat, dan kabut tipis menggantung di antara batang pohon seperti asap yang lupa ke mana harus pergi.
Lelaki itu memilih sebuah bangku yang menghadap jalan. Dari tempat itu ia bisa melihat kereta kuda sesekali melintas, para pekerja berjalan terburu-buru, dan beberapa perempuan membawa keranjang yang mungkin berisi roti hangat. Ia berusaha tidak melihat terlalu lama ke arah keranjang itu. Perutnya sudah kosong sejak kemarin sore.
Namanya tidak penting. Setidaknya begitulah pikirnya pagi itu. Nama hanya berguna jika seseorang mempunyai alamat yang bisa ditulis di bawahnya, pekerjaan yang bisa dicantumkan setelahnya, atau sebuah buku yang membuat orang lain mau mengingatnya. Ia tidak memiliki ketiganya.
Yang ia punya hanya sebuah pensil pendek, beberapa lembar kertas yang mulai kusut dan satu keyakinan yang semakin hari semakin sulit dipertahankan: bahwa suatu hari ia akan menjadi penulis.
Ia mengeluarkan kertas dari saku mantel. Sudut-sudutnya telah terlipat. Beberapa bagian kotor oleh bekas jari, dan satu lembar bahkan memiliki noda kopi yang sudah lama mengering. Ia meletakkannya di atas paha.
Di bagian paling atas tertulis sebuah kalimat yang sudah dibuatnya tiga hari lalu. Kalimat itu bagus. Setidaknya menurutnya. Sayangnya setelah kalimat itu tidak ada apa-apa lagi.
Ia sudah mencoba melanjutkannya semalam, ketika duduk di kamar kecil yang sewanya tertunggak. Ia menulis dua kalimat, menghapus tiga. Menulis satu paragraf, merobeknya. Kemudian menatap dinding selama hampir satu jam sampai lampu minyak mati dengan sendirinya. Pagi ini ia datang ke taman karena berharap udara segar dapat mengusir kebuntuan. Tetapi udara segar tidak mengenyangkan.
Perutnya berbunyi. Ia menutup mata.
“Diamlah,” gumamnya. Ia sendiri tidak tahu apakah perkataan itu ditujukan kepada perutnya atau kepada Tuhan.
Beberapa burung melompat di dekat kakinya. Mereka mematuk tanah, lalu terbang beberapa meter, kemudian kembali mematuk sesuatu yang tidak dapat dilihatnya. Ia mengamati mereka. Burung-burung itu tampak tidak memiliki kekhawatiran tentang makan siang. Mereka hanya mencari. Dan entah bagaimana selalu menemukan sesuatu.
Ia mendongak ke langit yang kelabu. “Tentu,” katanya perlahan. “Burung diberi makan.” Seorang lelaki tua yang lewat menoleh kepadanya. Ia tersenyum tipis seolah sedang berbicara sendiri adalah sesuatu yang sepenuhnya wajar. Setelah lelaki tua itu pergi, ia melanjutkan, “Lalu bagaimana denganku?”
Tidak ada jawaban. Hanya angin yang bergerak pelan di antara daun.
Ada saat ketika manusia tidak benar-benar meminta mukjizat. Ia hanya ingin mendapat tanda kecil bahwa dirinya belum dilupakan.
Ia mulai marah. Bukan marah seperti orang yang kehilangan uang atau dihina di jalan. Kemarahannya jauh lebih tua. Kemarahannya berasal dari malam-malam ketika ia harus memilih antara membeli roti atau membeli kertas. Dari pemilik kamar yang mengetuk pintu setiap awal minggu. Dari surat-surat penolakan redaksi yang selalu ditulis dengan kalimat sangat sopan. Dan dari keyakinan bahwa Tuhan pasti mengetahui semuanya.
“Kalau ini ujian,” katanya dalam hati, “bukankah seharusnya ada batasnya?” Ia menggenggam pensil. “Jika Engkau ingin membuatku lebih luhur dengan semua ini, mungkin Engkau salah memilih cara.”
Dadanya berdebar semakin cepat. Untuk sesaat ia membayangkan Tuhan sedang duduk di suatu tempat yang sangat tinggi, memandangnya sebagaimana seorang ilmuwan memandang seekor tikus di dalam kotak percobaan. Lalu bayangan itu membuatnya semakin kesal.
Ia menekan ujung pensil ke kertas. Patah.
Ia menatap potongan grafit kecil yang jatuh ke tanah. Kemudian tertawa pendek. Bahkan pensilnya menyerah lebih dahulu.
Ia sedang mencoba meraut pensil dengan pisau kecil ketika sesuatu mendarat di atas kertasnya. Seekor lalat.
Lelaki itu berhenti bergerak. Lalat tersebut berjalan perlahan di atas kalimat pertamanya. Ia melewati huruf demi huruf tanpa sedikit pun menghormati karya sastra yang menurut pemiliknya suatu hari mungkin akan dibaca banyak orang.
“Hus.” Ia meniup pelan. Lalat tidak pergi.
Ia meniup sekali lagi. Lebih keras. Lalat hanya merendahkan tubuhnya. Kaki-kakinya mencengkeram permukaan kertas.
Lelaki itu menatap tidak percaya. “Pergilah.” Ia meniup lagi. Kali ini sangat kuat sampai lembar kertas bergeser dari pahanya. Lalat tetap bertahan.
Lelaki itu meniup sekali lagi. Lalat bergeser beberapa milimeter. Namun tidak terbang.
“Dasar keras kepala.” Untuk pertama kalinya pagi itu, lelaki tersebut tersenyum.
Ia meletakkan kertas di atas bangku dan mendekatkan wajahnya. Sekarang dunia mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.
Lalat itu menggosok kedua kaki depannya. Tenang sekali. Seolah-olah manusia lapar yang sedang menatapnya bukan ancaman.
“Apakah kau tidak tahu bahwa aku bisa membunuhmu?” Tentu saja lalat tidak menjawab. “Sekali tepuk.” Ia mengangkat tangannya. Lalat tetap berada di sana.
Tangan itu tidak pernah turun.
Entah mengapa lelaki tersebut merasa dirinya sedang melihat sesuatu yang belum pernah ia perhatikan sebelumnya. Makhluk itu kecil. Tidak mempunyai mantel. Tidak mempunyai uang. Tidak tahu di mana akan tidur malam nanti. Bahkan mungkin tidak mengetahui konsep tentang esok hari. Namun ketika angin datang, ia tidak memikirkan nasib. Ia hanya bertahan.
Kakinya mencengkeram kertas. Sayapnya diam. Tubuhnya menunggu.
Dan ketika angin berlalu, ia kembali berjalan.
Lelaki itu bersandar pada bangku. Rasa lapar masih ada. Utang masih ada. Artikel yang belum selesai juga masih ada. Tidak ada satu pun masalah yang tiba-tiba menghilang. Namun kemarahannya kepada Tuhan terasa berbeda. Seperti api yang kehabisan kayu.
Ia memandang lalat itu kembali. “Kau makan apa hari ini?” Lalat berjalan menuju tepi kertas. “Aku juga belum tahu.”
Ia tertawa kecil. Jika seseorang melihatnya sekarang, orang itu mungkin mengira ia sudah kehilangan akal. Seorang penulis miskin sedang berbicara dengan lalat di taman kota. Namun pagi itu ia tidak terlalu peduli.
“Aneh,” katanya. “Aku punya lebih banyak kemungkinan dibandingkan kau, tetapi justru aku yang lebih takut.” Lalat berhenti. Mungkin kebetulan. Namun lelaki itu memilih menganggapnya sebagai jawaban.
Di kejauhan lonceng gereja berbunyi. Sekali. Dua kali. Kemudian berhenti.
Ia teringat masa kecilnya. Ibunya pernah mengatakan bahwa burung-burung di udara tidak pernah menanam gandum, tetapi selalu menemukan makanan. Dulu kalimat itu terdengar indah. Setelah dewasa dan lapar, kalimat tersebut terasa seperti ejekan.
Tetapi sekarang ada seekor lalat di hadapannya. Makhluk yang lebih kecil daripada kuku jarinya. Masih hidup.
Ia menengadah. “Apakah ini jawaban-Mu?” Tidak ada suara dari langit. Ia mengangkat bahu. “Jawaban yang sangat murah.”
Angin tiba-tiba bertiup lebih keras. Kertas hampir terlepas. Ia menahannya dengan kedua tangan. Lalat merendahkan tubuh. Kaki-kakinya kembali mencengkeram.
Satu detik. Dua detik. Tiga.
Angin berhenti. Lalat masih di sana.
Lelaki itu memandangnya lama. Kemudian sebuah pikiran sederhana muncul. Barangkali hidup tidak selalu meminta seseorang mengetahui apa yang akan terjadi. Kadang hidup hanya meminta satu hal: jangan terlempar dahulu.
Ia tiba-tiba mengerti bahwa bertahan tidak selalu terlihat gagah. Kadang bertahan hanyalah tindakan kecil seperti mengaitkan kaki pada sebuah koma sampai angin lewat.
Ia mengambil pensil yang sudah diraut. Kali ini tangannya lebih tenang.
Ia menulis. Satu kalimat. Kemudian kalimat kedua. Kalimat ketiga muncul tanpa harus dipaksa.
Lalat masih berjalan di bagian bawah kertas. Ia tidak lagi mengusirnya.
Menjelang siang, taman mulai ramai. Pedagang membuka lapaknya. Anak-anak berlarian. Kereta kuda menjadi lebih sering lewat. Kota Kristiania kembali sibuk seperti biasa.
Tetapi di salah satu bangku, seorang lelaki miskin sedang mengalami perubahan yang tidak diketahui siapa pun. Bukan perubahan besar. Ia tidak tiba-tiba menjadi kaya. Tidak ada penerbit datang menawarkan kontrak. Tidak ada kantong uang jatuh dari langit.
Ia hanya berhenti menganggap dirinya sebagai manusia paling malang di dunia. Dan terkadang perubahan sekecil itu sudah cukup untuk membuat seseorang bangkit.
Ia membaca ulang apa yang baru ditulis. Buruk. Ia mencoret satu bagian. Membaca kembali. Masih buruk.
Aneh sekali, pikirnya. Beberapa menit lalu tulisan buruk akan membuatnya putus asa. Sekarang ia hanya menganggapnya sebagai tulisan buruk yang masih dapat diperbaiki.
Begitu sederhana bedanya.
Padahal tidak satu pun makhluk di taman itu memiliki kepastian. Burung mencari tanpa tahu akan menemukan apa. Pedagang membuka lapaknya tanpa tahu siapa yang akan membeli. Pohon menggugurkan daun tanpa tahu musim berikutnya akan seperti apa. Dan lalat kecil itu bertahan menghadapi angin tanpa tahu apakah tangan manusia akan menepuknya satu detik kemudian.
Mereka semua hidup. Bukan setelah memperoleh kepastian. Melainkan di tengah ketidakpastian itu sendiri.
Ia memandang tangannya. “Jadi begini caranya?” Lalat sedang membersihkan sayap. “Tentu kau tidak tahu apa-apa.” Ia tersenyum. “Mungkin justru itu kelebihanmu.”
Beberapa saat kemudian seorang perempuan tua duduk di ujung bangku. Ia membawa keranjang kecil. Aroma roti segera memenuhi udara. Perut lelaki itu kembali berbunyi. Kali ini cukup keras.
Perempuan itu menoleh. Lelaki tersebut pura-pura sibuk dengan tulisannya.
“Belum sarapan?” tanya perempuan itu. Pertanyaan tersebut membuat wajahnya panas. “Aku tidak terlalu lapar.” Perutnya berbunyi lagi. Perempuan itu menahan senyum.
Ia membuka keranjang dan mengambil sebuah roti kecil. “Anakku selalu mengatakan hal yang sama ketika tidak punya uang.” “Aku punya uang.” “Bagus.” Perempuan itu meletakkan roti di antara mereka. “Kalau begitu anggap saja aku terlalu banyak membawa bekal.”
Lelaki itu memandang roti tersebut. Lalu memandang perempuan itu.
Harga dirinya berkata jangan. Perutnya berkata ambil.
Perempuan itu bangkit. “Aku harus pergi.” Ia berjalan menjauh tanpa menunggu jawaban.
Roti tetap berada di bangku. Hangat.
Lelaki itu mengambilnya perlahan. Kemudian tertawa. Tawa yang kali ini jauh lebih panjang.
Ia mendongak ke langit. “Baiklah.” Ia mengangkat roti sedikit. “Yang ini cukup jelas.”
Ia mematahkan roti menjadi dua. Memakan bagian pertama dengan cepat. Bagian kedua ia makan lebih pelan, seolah takut pagi yang aneh itu akan selesai ketika roti habis.
Beberapa remah jatuh ke kertas. Lalat segera mendekat.
“Ah.” Ia mengambil sebutir remah paling kecil dan meletakkannya beberapa sentimeter dari makhluk itu. “Nah. Ini bagianmu.”
Lalat berjalan mendekat. Entah memakan remah itu atau tidak, lelaki tersebut tidak benar-benar memperhatikan. Ia sudah kembali menulis.
Matahari mulai naik ketika ia menyelesaikan halaman ketiga. Tiga halaman. Bukan karya besar. Namun pagi tadi bahkan satu paragraf terasa mustahil.
Ia mengangkat kertas dan membacanya dari awal. Masih banyak bagian yang buruk. Beberapa kalimat terlalu panjang. Satu paragraf terasa bodoh. Tetapi ada sesuatu di sana. Sesuatu yang hidup.
Ia memasukkan pensil ke saku. Saat itulah ia menyadari lalat tersebut masih berada di dekat tepi kertas.
“Masih di sini rupanya.” Ia mendekat. “Aku harus pergi.”
Lalat menggosok kaki depan. Lelaki itu tersenyum. “Jangan khawatir. Aku tidak akan meniupmu lagi.”
Seolah memahami kalimat itu, lalat membuka sayap. Kemudian terbang. Begitu saja.
Tidak ada musik. Tidak ada cahaya dari langit. Makhluk kecil itu hanya menghilang di antara udara taman Kristiania.
Lelaki tersebut mengikuti arah terbangnya beberapa detik sampai tidak dapat melihatnya lagi. Kemudian ia melihat kertas di tangannya.
Tiba-tiba ia sadar bahwa sejak awal lalat itu sebenarnya bisa pergi kapan saja. Ia hanya memilih tidak terbang ketika belum perlu.
Bertahan bukan berarti tidak mempunyai jalan keluar. Bertahan berarti mengetahui kapan harus mencengkeram dan kapan harus membuka sayap.
Ia berdiri. Mantelnya masih lusuh. Sepatunya tetap buruk. Uang di sakunya hampir tidak ada. Utang kamar belum dibayar.
Namun langkahnya ketika meninggalkan taman tidak sama dengan langkah ketika ia datang.
Di gerbang taman ia berhenti sebentar. Menoleh ke bangku tempat ia duduk selama beberapa jam terakhir.
Bangku itu kosong. Tidak ada tanda bahwa sesuatu yang penting pernah terjadi di sana.
Ia merasa lega. Hal-hal penting memang tidak selalu membutuhkan saksi.
Beberapa tahun kemudian, mungkin lelaki itu akan mengingat pagi tersebut sebagai hari ketika ia hampir menyerah menjadi penulis.
Mungkin ia juga akan melupakan wajah perempuan yang memberinya roti.
Tetapi ada kemungkinan ia tidak pernah melupakan seekor lalat yang mengaitkan kaki-kakinya pada sebuah koma dan menolak diterbangkan angin.
Sebab terkadang Tuhan tidak menjawab manusia melalui suara dari langit. Kadang jawabannya hanya berupa sesuatu yang sangat kecil, cukup kecil untuk hinggap di atas selembar kertas dan menunggu kita benar-benar memperhatikannya.
novel pendek, cerita pendek, kisah inspiratif, Kristiania, penulis miskin, Tuhan dan manusia, seekor lalat, cerita kehidupan, prosa sastra, renungan kehidupan, cerita tentang bertahan hidup, novel Indonesia, cerita inspirasi.
novel pendek tentang kehidupan, cerita penulis miskin, cerita tentang Tuhan dan manusia, kisah inspiratif seekor lalat, novel renungan kehidupan, cerita tentang bertahan dalam kesulitan, prosa sastra Indonesia, cerita pendek penuh makna, kisah manusia dan Tuhan, cerita motivasi yang tidak menggurui.
mantap gan
ReplyDelete