Pelan Dan Nikmati !
Jam di layar ponselnya menunjukkan pukul 07.12 ketika alarm ketiga berbunyi. Ia mematikannya tanpa membuka mata.
Tujuh menit kemudian alarm berikutnya berbunyi lagi. Kali ini ia bangun. Bukan karena sudah cukup tidur, tetapi karena rasa bersalah datang lebih dahulu daripada kesadarannya.
Ada pesan yang belum dibalas. Ada dua surel dari kantor. Ada laporan yang belum selesai. Ada notifikasi dari aplikasi yang bahkan tidak ia ingat pernah memasangnya. Dan di pojok layar ponsel, sebuah angka kecil berwarna merah menunjukkan bahwa selama ia tidur dunia telah menghasilkan seratus lebih hal yang dianggap penting untuk diketahui.
Ia duduk di tepi tempat tidur. Untuk beberapa detik ia hanya memandang lantai.
“Apa sebenarnya yang sedang kukejar?” Pertanyaan itu muncul begitu saja. Tidak ada jawaban.
Ia berdiri, mandi secepat mungkin, mengenakan pakaian, menyeduh kopi instan lalu meninggalkannya setengah cangkir karena kendaraan pesanannya sudah tiba.
Jalan raya sudah penuh ketika ia keluar. Sepeda motor bergerak di antara mobil. Bus berhenti sebentar, kemudian melaju lagi. Lampu lalu lintas berubah seperti aba-aba dalam perlombaan yang tidak pernah diumumkan.
Semua orang tampak sedang menuju sesuatu. Semua ingin lebih cepat.
Ia sendiri tidak berbeda. Matanya beberapa kali berpindah dari jalan menuju layar ponsel. Satu pesan dibalas. Satu email dibaca. Satu berita hanya dilihat judulnya. Semua dilakukan setengah.
Ketika kendaraan berhenti karena kemacetan, ia merasa kesal. Bukan karena ada masalah. Hanya karena berhenti.
Ia melihat angka pada aplikasi navigasi. Tiga puluh dua menit. Kemudian tiga puluh lima.
Tiga menit tambahan terasa seperti kerugian.
Ia baru menyadari betapa anehnya hal itu ketika seorang pengamen kecil berjalan di antara kendaraan. Anak itu membawa gitar yang ukurannya hampir sebesar tubuhnya. Ia bernyanyi tanpa terlihat tergesa.
Satu bait. Kemudian bait kedua.
Lampu berubah hijau. Kendaraan bergerak. Lagu itu tertinggal.
Ia menoleh sebentar melalui kaca belakang. Anak tersebut masih bernyanyi kepada deretan kendaraan berikutnya.
Kita sering menyebut waktu terlalu sedikit, padahal mungkin masalahnya bukan kekurangan waktu. Bisa jadi kita hanya terlalu banyak mengejar sesuatu dalam waktu yang sama.
Hari berjalan seperti biasanya. Rapat. Pesan. Telepon. Laporan. Makan siang di depan monitor. Kopi kedua. Kopi ketiga.
Ketika matahari mulai turun, ia bahkan tidak ingat apakah hari itu langit pernah benar-benar cerah.
Ia pulang menjelang malam. Kembali menatap ponsel selama perjalanan. Kembali merasa waktu berjalan terlalu cepat.
Dan ironisnya, hampir seluruh hari telah ia lalui tanpa benar-benar memperhatikan apa pun.
Sabtu pagi ia terbangun tanpa alarm. Pukul 09.24. Untuk beberapa detik ia panik. Kemudian teringat bahwa hari itu tidak ada pekerjaan.
Ia mengambil ponsel. Ada dorongan otomatis untuk membuka pesan. Tangannya sudah hampir menekan layar ketika tiba-tiba ia berhenti.
Ponsel itu diletakkan kembali di meja.
Ia menatap langit-langit kamar. Sunyi.
Aneh sekali. Sunyi terasa hampir asing.
Ia membuat kopi. Kali ini tidak menggunakan gelas kertas. Ia mengambil cangkir keramik lama yang biasanya hanya menjadi penghuni lemari.
Kopi dituangkan perlahan. Uapnya naik. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang cukup lama, ia menunggu kopi sedikit dingin tanpa melakukan apa-apa.
Ia hanya melihat uap itu menghilang.
Ia mengambil pulpen. Membuka halaman pertama. Kemudian menulis:
Apa yang akan terjadi jika hari ini aku tidak mengejar apa-apa?
Ia membaca kalimat itu dua kali. Lalu tertawa kecil. Seolah-olah tidak mengejar sesuatu merupakan eksperimen ilmiah.
Namun mungkin memang begitu. Di zaman ketika semuanya harus cepat, melambat terasa seperti tindakan yang hampir radikal.
Ia memutuskan keluar. Tanpa tujuan khusus. Tanpa daftar tempat yang harus dikunjungi. Tanpa aplikasi navigasi.
Ia hanya berjalan.
Dua puluh menit berjalan kaki membawanya ke sebuah jalan kecil yang jarang dilewati. Ada beberapa toko tua. Sebuah bengkel. Warung makan. Dan sebuah kedai kopi kecil yang hampir tidak terlihat dari jalan utama.
Di depannya terdapat tiga meja. Satu sudah ditempati dua orang tua yang sedang bermain catur. Satu lagi ditempati seorang perempuan yang membaca buku. Meja terakhir kosong.
Ia duduk.
Pemilik kedai datang membawa daftar menu sederhana. “Mau pesan apa?” “Kopi hitam.” “Panas?” Ia mengangguk.
Tidak ada pilihan ukuran. Tidak ada tambahan sirup. Tidak ada layar sentuh. Hanya kopi hitam.
Beberapa menit kemudian cangkir diletakkan di depannya. Ia mengangkatnya. Mencium aroma kopi.
Biasanya ia minum kopi sambil mengetik sesuatu. Hari itu tidak.
Ia menyeruput perlahan. Pahit. Hangat.
Aneh sekali bahwa sesuatu yang setiap hari diminumnya ternyata mempunyai rasa yang selama ini hampir tidak pernah ia sadari.
Di kejauhan terdengar suara kendaraan. Namun dari tempat duduknya suara itu tidak terasa seperti gangguan. Lebih seperti suara latar kota.
Angin membawa aroma hujan. Awan bergerak perlahan.
Perempuan di meja sebelah membalik halaman bukunya. Salah satu pemain catur mengetuk bidak kayu ke meja. Pemilik kedai sedang menyapu daun.
Tidak ada satu pun dari mereka tampak terburu-buru.
Dan untuk pertama kalinya, ia merasa tidak perlu terburu-buru juga.
Kopi yang diminum perlahan tidak membuat hari menjadi lebih panjang. Tetapi ia membuat beberapa menit di dalam hari itu terasa benar-benar hadir.
Ia mengambil ponsel. Layar menunjukkan beberapa notifikasi.
Ia mematikannya. Kemudian memasukkannya kembali ke saku.
“Hujan sebentar lagi.” Pemilik kedai berkata sambil memandang langit.
Ia ikut melihat ke atas. “Sepertinya.”
“Bagus.” Ia menoleh. “Bagus?”
Pemilik kedai tersenyum. “Tanaman saya sudah dua hari tidak disiram.”
Jawaban sederhana. Tetapi entah mengapa membuatnya tertawa kecil.
“Biasanya kalau hujan saya malah kesal,” katanya. “Kenapa?” “Macet.”
Pemilik kedai mengangkat bahu. “Ya, kalau sedang di jalan mungkin memang menyebalkan.” Kemudian ia melanjutkan menyapu.
Tidak ada nasihat. Tidak ada kalimat bijak. Hanya percakapan kecil tentang hujan.
Namun beberapa menit kemudian ketika rintik pertama jatuh, ia memandang hujan dengan cara berbeda.
Bukan sebagai penyebab macet. Bukan sebagai gangguan perjalanan. Hanya hujan.
Air jatuh di aspal. Debu berubah menjadi aroma tanah. Atap seng menghasilkan bunyi yang tidak beraturan.
Perempuan yang membaca buku memindahkan kursinya sedikit agar tidak terkena percikan. Dua lelaki tua tetap bermain catur.
Ia tetap duduk.
Tidak ada tempat yang harus segera didatangi.
Mungkin banyak hal kehilangan keindahannya bukan karena dunia berubah, tetapi karena kita terlalu cepat melewatinya.
Hujan berhenti sekitar setengah jam kemudian. Ia sudah menghabiskan kopinya. Namun belum ingin pulang.
Ia membuka buku catatan bergambar roket. Di bawah pertanyaan yang ditulis pagi tadi, ia menambahkan beberapa kalimat.
Tidak terjadi apa-apa.
Ia berhenti. Kemudian mencoret kalimat tersebut.
Menulis kembali:
Banyak hal terjadi ketika aku berhenti mengejar sesuatu.
Ia melihat hujan yang tersisa di ujung daun. Melihat uap tipis naik dari jalan. Mendengar orang tertawa dari dalam kedai.
Semua hal itu sebenarnya biasa. Mungkin selama ini selalu ada.
Hanya saja ia jarang mempunyai waktu untuk melihatnya. Atau lebih tepatnya, ia tidak pernah memberikan waktu untuk melihatnya.
Ia kembali menulis.
Aku selalu takut kehilangan waktu. Padahal ketika terlalu cepat, justru sebagian besar waktu tidak pernah kurasakan.
Pulpen berhenti.
Ia membaca kalimat itu cukup lama.
Kemudian menutup buku.
Menjelang sore ia meninggalkan kedai. Ia memilih berjalan pulang.
Tidak terlalu jauh. Namun biasanya ia tetap memesan kendaraan. Hari itu ia ingin berjalan.
Trotoar masih basah. Langit mulai terang kembali. Cahaya matahari sore memantul di genangan.
Ia melihat toko bunga yang selama ini hanya dilewati. Melihat mural di sebuah tembok. Mendengar seseorang berlatih piano dari lantai dua rumah tua.
Ia tidak berhenti lama. Hanya cukup untuk menyadari semuanya ada.
Saat itulah ia memahami sesuatu. Melambat bukan berarti berhenti. Bukan pula berarti menolak teknologi, pekerjaan atau perubahan.
Ada saat ketika manusia memang harus cepat. Ada keputusan yang tidak bisa ditunda. Ada peluang yang hanya datang sebentar. Ada keadaan darurat yang menuntut tindakan segera.
Kecepatan bukan musuh.
Masalah muncul ketika kecepatan menjadi satu-satunya ritme yang kita kenal.
Seperti kendaraan yang selalu menekan pedal gas tanpa pernah mengurangi kecepatan di tikungan. Cepat atau lambat, sesuatu akan hilang.
Bisa tenaga. Bisa perhatian. Bisa hubungan. Bisa diri sendiri.
Keesokan harinya ia kembali terbangun tanpa alarm. Pukul 08.11.
Ponsel masih berada di meja. Ada beberapa pesan. Ia membacanya. Membalas yang memang perlu dibalas.
Tidak ada yang runtuh karena ia baru membukanya pagi itu.
Ia membuat kopi. Duduk di dekat jendela.
Di jalan seseorang berlari pagi. Seorang bapak menyiram tanaman. Anak kecil menaiki sepeda.
Ia membuka buku catatan. Halaman berikutnya masih kosong.
Tidak ada ide besar. Tidak ada teori. Tidak ada rencana untuk mengubah hidup.
Ia hanya menuliskan satu kalimat:
Hari ini tidak perlu terlalu cepat.
Kemudian menutup buku.
Kopi masih panas. Matahari baru mulai naik. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hari Minggu benar-benar terasa seperti hari Minggu.
Dunia mungkin akan terus bergerak semakin cepat. Mesin menjadi lebih pintar, informasi berpindah dalam hitungan detik dan jarak semakin kehilangan artinya.
Kita tidak harus melawan semuanya.
Tetapi sesekali, ada baiknya memilih sebuah bangku kosong, memesan sesuatu yang hangat dan membiarkan beberapa menit berjalan tanpa harus menghasilkan apa-apa.
Sebab hidup bukan hanya tentang seberapa cepat kita sampai. Ada bagian dari perjalanan yang hanya bisa ditemukan ketika kita cukup pelan untuk melihatnya.
Kecepatan dan waktu itu awalnya kita pikir adalah absolut, ternyata dari fenomena yg terjadi diluasnya semesta, waktu & kecepatan itu relatif, bisa bergerak dg kondisi yg berbeda2 sesuai gravitasi, elastisitas ruang & materi di sekitarnya.. Cek film interstelar
ReplyDeleteKidak perlu kita terburu-buru mengejar sesuatu untuk memanfaatkannya, sebab segala sesuatu itu akan terjadi tepat pada waktunya, karna setiap waktu itu ada masanya, dan setiap masa itu ada waktunya. semua akan indah pada waktunya.
ReplyDelete