Biaya Marketplace Makin Tinggi Apakah Sudah Saatnya Punya Toko Online Sendiri?
Namun ada satu persoalan yang belakangan semakin sering dibicarakan seller: biaya jualan terasa makin besar, sementara margin keuntungan belum tentu ikut bertambah.
Masalahnya bukan selalu karena ada satu potongan yang sangat besar. Beban seller bisa berasal dari beberapa komponen sekaligus, mulai dari biaya administrasi, layanan dasar, pemrosesan pesanan, program promosi, affiliate hingga iklan.
Karena itu pertanyaan yang lebih menarik bukan sekadar, “berapa persen marketplace memotong penjual?”, tetapi:
Marketplace masih sangat berguna untuk menemukan pelanggan baru. Toko online sendiri mempunyai fungsi berbeda: membangun brand, kanal penjualan alternatif dan hubungan langsung dengan pelanggan. Untuk usaha kecil, keduanya justru bisa digunakan bersamaan.
Kenapa Biaya Marketplace Makin Banyak Dibicarakan?
Marketplace bukan layanan gratis. Platform menyediakan infrastruktur teknologi, sistem pembayaran, keamanan transaksi, trafik pengunjung, ulasan, promosi dan integrasi dengan layanan pengiriman.
Karena fasilitas tersebut mempunyai biaya operasional, adanya biaya untuk seller sebenarnya bukan sesuatu yang aneh.
Yang menjadi persoalan adalah ketika seller hanya melihat omzet tanpa menghitung seluruh biaya yang ikut keluar untuk mendapatkan transaksi tersebut.
Deputi Bidang Usaha Kecil Kementerian UMKM pada Juni 2026 menyebut biaya layanan yang dikenakan marketplace kepada pelaku usaha berada pada kisaran 10% sampai 18%.
Angka tersebut merupakan gambaran biaya layanan platform dan bukan berarti setiap seller otomatis membayar persentase yang sama. Biaya aktual dapat berbeda karena kategori produk, jenis toko, layanan yang digunakan, promosi dan karakter transaksi.
Benarkah Potongan Seller Bisa Mencapai 20% atau 25%?
Angka seperti 20% atau 25% memang sering muncul dalam diskusi penjual, tetapi kita perlu membedakan antara biaya layanan dasar dan total biaya efektif untuk menghasilkan penjualan.
Tidak tepat mengatakan semua seller marketplace otomatis dipotong 25%.
Namun pada toko tertentu, total pengeluaran untuk menghasilkan transaksi memang bisa membesar ketika beberapa komponen digunakan secara bersamaan.
Besarnya dapat berbeda menurut kategori dan kebijakan platform.
Sebagian platform mempunyai biaya tetap atau biaya proses pesanan.
Program tertentu dapat mempunyai struktur biaya tambahan.
Digunakan seller untuk meningkatkan jangkauan dan mendapatkan transaksi.
Sebagai contoh transparansi angka, ketentuan resmi Shopee Indonesia yang berlaku pada Agustus 2026 mencantumkan biaya administrasi penjual sekitar 2,5% hingga 10% tergantung kategori, serta biaya proses pesanan sebesar Rp1.250 per transaksi selesai. Layanan tambahan mempunyai ketentuan masing-masing.
Contoh tersebut menunjukkan kenapa satu angka biaya administrasi saja belum cukup untuk menggambarkan biaya jualan sebuah toko.
Dari setiap Rp100.000 penjualan, berapa rupiah yang benar-benar tersisa setelah seluruh biaya untuk menghasilkan transaksi dikurangi?
Data BPS: Cara Orang Indonesia Berjualan Online Ternyata Tidak Hanya Lewat Marketplace
Kalau melihat data nasional, pola jualan online di Indonesia ternyata cukup menarik.
Publikasi Statistik E-Commerce 2024 dari Badan Pusat Statistik menunjukkan sebagian besar usaha e-commerce justru menggunakan aplikasi pesan instan sebagai media penjualan.
Sumber: Badan Pusat Statistik, Statistik E-Commerce 2024.
Satu usaha dapat menggunakan lebih dari satu media penjualan sehingga persentasenya tidak dimaksudkan untuk dijumlahkan menjadi 100%.
Data tersebut memberikan dua pelajaran sekaligus.
Pertama, marketplace memang penting tetapi bukan satu-satunya cara usaha Indonesia melakukan transaksi online. WhatsApp dan aplikasi pesan instan masih mempunyai peran yang sangat besar.
Kedua, penggunaan website sendiri masih sangat kecil, hanya sekitar 1,36% usaha e-commerce yang tercatat menggunakan kanal tersebut.
Angka website yang kecil jangan langsung diterjemahkan sebagai bukti bahwa website tidak berguna. Justru data itu menunjukkan tantangannya: seller yang membuat website tidak bisa berharap pengunjung datang dengan sendirinya.
Artinya peluang website bukan terletak pada menggantikan WhatsApp. Justru kombinasi website sebagai katalog dan pusat brand + WhatsApp sebagai komunikasi dan transaksi lebih sesuai dengan kebiasaan banyak usaha kecil di Indonesia.
Coba Lihat Dampaknya Lewat Simulasi Sederhana
Misalnya sebuah usaha mempunyai omzet penjualan online sebesar Rp20 juta per bulan.
Tabel berikut bukan tarif suatu marketplace tertentu. Ini hanya simulasi untuk melihat seberapa besar pengaruh biaya efektif terhadap uang yang masih berada di tangan seller sebelum menghitung modal barang.
| Omzet | Biaya Efektif | Estimasi Biaya | Sisa Sebelum HPP |
|---|---|---|---|
| Rp20 juta | 10% | Rp2 juta | Rp18 juta |
| Rp20 juta | 15% | Rp3 juta | Rp17 juta |
| Rp20 juta | 20% | Rp4 juta | Rp16 juta |
| Rp20 juta | 25% | Rp5 juta | Rp15 juta |
Nilai pada kolom terakhir belum bisa disebut keuntungan.
Seller masih harus mengurangi harga pokok produk, kemasan, tenaga kerja, biaya operasional, retur dan pengeluaran lainnya.
Margin yang awalnya Rp30.000 tinggal sekitar Rp15.000 sebelum biaya operasional lain dihitung.
Inilah alasan perubahan beberapa persen bisa terasa kecil bagi pembeli tetapi cukup besar bagi penjual yang mempunyai margin tipis.
Kenapa Seller Kecil Lebih Mudah Merasakan Tekanan Biaya?
Brand besar biasanya mempunyai volume penjualan lebih besar, kemampuan membeli stok dalam jumlah banyak dan anggaran pemasaran yang lebih fleksibel.
Usaha kecil sering berada dalam kondisi yang berbeda.
- Modal yang berputar relatif terbatas.
- Margin beberapa produk tidak terlalu besar.
- Sulit menaikkan harga karena persaingan sangat mudah dibandingkan pembeli.
- Sering bergantung pada trafik marketplace.
- Belum mempunyai kanal pelanggan sendiri.
Jika harga dinaikkan untuk menutup biaya, produk bisa terlihat lebih mahal dibanding kompetitor. Jika harga tetap dipertahankan, margin yang harus dikorbankan.
Karena itu persoalannya bukan apakah marketplace baik atau buruk. Persoalannya adalah berapa besar ketergantungan bisnis kepada satu saluran penjualan.
Ada Aturan Baru yang Melindungi UMK dari Kenaikan Biaya Marketplace
Pemerintah sebenarnya sudah mulai merespons persoalan biaya tersebut.
Peraturan Menteri UMKM Nomor 3 Tahun 2026 mengatur pelindungan dan peningkatan daya saing usaha mikro dan kecil dalam perdagangan melalui sistem elektronik.
Salah satu poin pentingnya adalah marketplace harus memberitahukan rencana perubahan biaya layanan kepada UMK paling lambat 90 hari kalender sebelum perubahan tersebut berlaku.
Kebijakan biaya tidak seharusnya berubah secara mendadak tanpa pemberitahuan. Regulasi baru memberikan ruang lebih besar agar pelaku UMK dapat mengetahui dan mempersiapkan perubahan biaya layanan.
Bagaimana dengan potongan biaya layanan minimal 50%?
Permen UMKM Nomor 3 Tahun 2026 juga mengatur potongan biaya layanan paling sedikit 50% bagi UMK yang terverifikasi dan hanya menjual produk dalam negeri.
Namun ada hal yang perlu diperhatikan.
Potongan 50% bukan berarti harga produk otomatis dipotong 50%, bukan pula berarti seluruh biaya seller hilang setengahnya.
Insentif tersebut berlaku pada komponen biaya layanan yang memenuhi ketentuan pemerintah. Promosi atau iklan yang sifatnya opsional mempunyai perhitungan tersendiri.
Status 30 Agustus 2026
Aturan dasarnya sudah berlaku, tetapi pemerintah masih menyelesaikan mekanisme teknis dan Keputusan Menteri untuk implementasi serta proses verifikasi melalui SAPA UMKM. Seller perlu memeriksa ketentuan terbaru ketika program mulai dapat diajukan secara penuh.
Kebijakan ini tentu menjadi kabar baik bagi seller kecil. Tetapi sekalipun biaya marketplace nantinya lebih ringan, membangun lebih dari satu kanal penjualan tetap masuk akal untuk mengurangi risiko ketergantungan bisnis.
Apakah Toko Online Sendiri Otomatis Lebih Murah?
Tidak selalu.
Toko online sendiri memang tidak mengenakan biaya administrasi marketplace untuk setiap transaksi. Tetapi beberapa fasilitas yang sebelumnya disediakan platform harus ditangani sendiri.
- Sudah mempunyai trafik.
- Sistem transaksi tersedia.
- Ada rating dan ulasan.
- Logistik relatif terintegrasi.
- Lebih mudah dipercaya pembeli baru.
- Ada biaya dan kebijakan platform.
- Kontrol toko lebih besar.
- Bebas mengembangkan branding.
- Bisa memperoleh trafik Google.
- Hubungan pelanggan lebih langsung.
- Harus mencari trafik sendiri.
- Kepercayaan dibangun dari awal.
Jadi website sendiri sebaiknya jangan dijual sebagai solusi “jualan gratis tanpa biaya”. Klaim seperti itu tidak realistis.
Yang terjadi sebenarnya adalah perubahan struktur biaya dan kepemilikan kanal.
Di marketplace seller membayar untuk menggunakan ekosistem yang sudah mempunyai trafik. Pada website sendiri seller harus membangun trafik, kepercayaan dan sistem operasionalnya sendiri.
Keuntungan Toko Sendiri Bukan Cuma Soal Menghemat Biaya
Ada nilai yang lebih besar daripada sekadar menghindari potongan transaksi.
Website bisa menjadi aset digital milik bisnis.
Bayangkan seorang pelanggan pertama kali menemukan sebuah produk dari marketplace.
Setelah barang datang dan ia puas, pelanggan mulai mengenali nama brand tersebut. Ketika ingin membeli lagi beberapa bulan kemudian, ia bisa mencari nama brand melalui Google, membuka website resmi atau menghubungi WhatsApp toko.
Proses seperti inilah yang perlahan mengubah transaksi sekali beli menjadi hubungan jangka panjang dengan pelanggan.
Bisakah Blogger Digunakan sebagai Toko Online?
Blogger pada dasarnya adalah platform blogging, bukan platform e-commerce.
Namun untuk usaha kecil dengan kebutuhan sederhana, Blogger dapat dikembangkan menjadi katalog produk dan pusat informasi bisnis tanpa harus menggunakan hosting berbayar.
Model sederhananya bisa seperti berikut.
-
1
Satu posting untuk satu produk
Posting berisi foto, harga, deskripsi, spesifikasi dan informasi produk.
-
2
Label menjadi kategori
Produk makanan, fashion, kerajinan atau kategori lain dapat dikelompokkan dengan label.
-
3
Template menampilkan katalog
Posting dapat diubah secara visual menjadi grid produk seperti toko online.
-
4
Order diteruskan ke WhatsApp
Pembeli dapat mengirim informasi produk dan jumlah pesanan langsung kepada seller.
Model ini mempunyai keterbatasan. Blogger tidak cocok untuk kebutuhan stok real-time yang kompleks, ribuan SKU, multi-gudang atau integrasi bisnis tingkat lanjut.
Untuk toko sederhana, katalog + WhatsApp bisa cukup. Untuk operasi e-commerce besar, platform khusus seperti WooCommerce, Shopify atau sistem e-commerce lain akan lebih sesuai.
Strategi yang Lebih Realistis: Marketplace + Website + WhatsApp
Data BPS tadi memberikan petunjuk yang cukup jelas.
Masyarakat Indonesia sudah terbiasa berjualan dan berkomunikasi melalui aplikasi pesan instan, sedangkan marketplace mempunyai ekosistem yang kuat untuk menemukan produk baru.
Karena itu strategi yang lebih realistis bukan memaksa pembeli pindah ke website.
Marketplace tetap digunakan sebagai salah satu tempat memperoleh pelanggan baru.
Website menjadi pusat identitas dan katalog resmi.
Sementara WhatsApp digunakan untuk komunikasi, layanan pelanggan dan transaksi yang memang sesuai dengan pola usaha tersebut.
Kapan Seller Sebaiknya Mulai Mempunyai Kanal Sendiri?
Tidak harus menunggu sampai bisnis mempunyai omzet ratusan juta.
Kalau beberapa kondisi tersebut sudah terjadi, membangun kanal sendiri mulai layak dipertimbangkan.
Tidak perlu memasukkan ratusan produk sekaligus. Sepuluh produk yang paling laris sudah cukup untuk menguji apakah pelanggan tertarik menggunakan kanal tersebut.
Website Sendiri Juga Punya Kekurangan
Bagian ini penting karena website sering dipromosikan seolah-olah akan otomatis membuat bisnis lebih untung.
Kenyataannya tidak seperti itu.
Tidak otomatis ramaiWebsite baru biasanya belum mempunyai pengunjung.
Harus membangun kepercayaanPembeli belum mempunyai sistem rating seperti marketplace.
Harus belajar pemasaranSEO, media sosial dan pelanggan lama menjadi sumber trafik penting.
Pengelolaan lebih mandiriPembayaran dan operasional perlu dipersiapkan dengan baik.
Justru karena alasan tersebut, toko sendiri sebaiknya dibangun secara bertahap sambil mempertahankan kanal yang sudah menghasilkan penjualan.
Kalau Ingin Memulai, Kerjakan Enam Hal Ini Dulu
- Audit biaya marketplace.Ambil laporan transaksi 30 hari terakhir dan jumlahkan seluruh biaya terhadap omzet.
- Hitung margin asli.Masukkan modal produk, biaya transaksi, promosi dan operasional.
- Daftarkan domain brand.Domain menjadi alamat digital yang dapat digunakan dalam jangka panjang.
- Buat katalog sederhana.Mulai dari beberapa produk yang paling sering dibeli pelanggan.
- Hubungkan ke WhatsApp.Permudah pelanggan menghubungi seller tanpa proses yang rumit.
- Pertahankan kanal yang sudah bekerja.Marketplace tetap bisa dipakai sambil membangun sumber trafik lain.
Tujuannya bukan membuat bisnis meninggalkan marketplace, tetapi memastikan bisnis tidak hanya mempunyai satu pintu untuk mendapatkan pelanggan.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Apakah semua seller marketplace dikenakan biaya 20–25%?
Tidak. Biaya berbeda menurut platform, kategori, jenis seller dan layanan yang digunakan. Angka tinggi yang dibicarakan seller biasanya merupakan total beberapa komponen biaya, bukan satu biaya administrasi universal.
Berapa kisaran biaya layanan marketplace untuk UMK?
Deputi Bidang Usaha Kecil Kementerian UMKM pada Juni 2026 menyebut biaya layanan yang dikenakan marketplace kepada pelaku usaha berada pada kisaran 10–18%. Angka aktual setiap seller tetap perlu diperiksa melalui laporan transaksi masing-masing.
Apakah seller sebaiknya keluar dari marketplace?
Tidak harus. Marketplace masih mempunyai trafik, sistem pembayaran dan kepercayaan konsumen yang sulit dibangun dalam waktu singkat. Toko sendiri lebih cocok dikembangkan sebagai kanal tambahan.
Apakah website sendiri gratis?
Tidak sepenuhnya. Website dapat membutuhkan domain, sistem pembayaran, pemasaran atau pengelolaan. Blogger dapat menekan biaya hosting untuk toko sederhana, tetapi biaya bisnis lainnya tetap ada.
Apakah Blogger cocok untuk toko online?
Blogger cukup menarik untuk katalog produk sederhana, halaman informasi bisnis dan order melalui WhatsApp. Untuk operasi e-commerce yang kompleks, platform khusus lebih sesuai.
Apakah UMK mendapat potongan biaya marketplace 50%?
Permen UMKM Nomor 3 Tahun 2026 mengatur potongan biaya layanan paling sedikit 50% untuk UMK terverifikasi yang hanya menjual produk dalam negeri. Implementasinya membutuhkan proses verifikasi dan mekanisme teknis pemerintah.
Jadi, Apakah Sudah Saatnya Punya Toko Online Sendiri?
Kalau tujuannya sekadar menghindari semua biaya marketplace, jawabannya belum tentu.
Marketplace tetap mempunyai keunggulan yang sulit digantikan: trafik besar, sistem transaksi, ulasan pelanggan dan ekosistem pengiriman yang sudah terbentuk.
Tetapi kalau tujuannya adalah membangun brand, memperoleh pelanggan dari lebih banyak sumber dan mengurangi ketergantungan kepada satu platform, mulai mempunyai kanal sendiri adalah keputusan yang masuk akal.
Data BPS bahkan menunjukkan pola perdagangan online Indonesia memang tidak terkunci pada satu jenis platform. Aplikasi pesan instan, media sosial, marketplace dan website mempunyai fungsi masing-masing.
Marketplace dapat digunakan untuk menjangkau pembeli baru, website menjadi rumah digital sebuah brand, sedangkan WhatsApp membantu mempertahankan hubungan langsung dengan pelanggan.
Yang paling penting adalah memahami biaya setiap kanal dan mengetahui dari mana pelanggan datang.
Kalau sebuah bisnis masih memperoleh keuntungan sehat dari marketplace, pertahankan. Kalau pelanggan banyak datang lewat WhatsApp, optimalkan. Kalau brand mulai dikenal, bangun website agar pelanggan mempunyai tempat resmi untuk menemukan bisnis tersebut kembali.
Dengan cara itu, ketika algoritma berubah, biaya platform naik atau salah satu kanal sedang sepi, bisnis masih mempunyai pintu lain untuk tetap bertemu dengan pelanggannya.
Sumber Data dan Referensi
Data dan kebijakan pada artikel ini diperiksa hingga 30 Agustus 2026. Ketentuan marketplace dapat berubah sewaktu-waktu, sehingga seller disarankan memeriksa halaman resmi platform sebelum mengambil keputusan bisnis.
- Badan Pusat Statistik — Statistik E-Commerce 2024
- Shopee Indonesia — Syarat Layanan dan Struktur Biaya Penjual
- ANTARA — Ketentuan Pemberitahuan Perubahan Biaya Marketplace untuk UMK
- ANTARA — Potongan Biaya Layanan Marketplace untuk Produk Lokal
- ANTARA — Mekanisme Potongan Biaya Marketplace UMK, Agustus 2026
- Kementerian Perdagangan — Permendag Nomor 19 Tahun 2026 tentang PMSE
No comments
💬 Share Your Thoughts & Join the Hall of Fame!
Punya pendapat atau tips tentang artikel ini? Tuliskan komentar kamu sekarang! 🚀
💎 Komentar yang bermanfaat, relevan, dan positif berkesempatan tampil di CodeFlare Hall of Fame dan masuk ke Top Commentators Widget.
👉 Comment now. Share your ideas. Get noticed on codeflare.net